Selama beberapa tahun terakhir, pembangunan infrastruktur selalu dijadikan simbol kemajuan ekonomi Indonesia.
Jalan tol baru dibuka, bandara diperluas, pelabuhan dimodernisasi, hingga proyek kawasan strategis terus bermunculan di berbagai daerah.
Dari luar, semuanya terlihat seperti tanda bahwa Indonesia sedang bergerak menuju masa depan yang lebih maju. Namun, apakah pembangunan fisik benar-benar menjamin ekonomi negara ikut membaik?
Pertanyaan ini mulai muncul kembali ketika kondisi ekonomi Indonesia memasuki tekanan berat akibat pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp17.600 hingga mendekati Rp17.700 per dolar AS.
Meski pemerintah masih mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,61%, banyak ekonom mulai memperingatkan bahwa sektor riil sedang menghadapi ancaman perlambatan, daya beli masyarakat menurun, dan stabilitas fiskal mulai diuji.
Dari sudut pandang para arsitek, fenomena ini sebenarnya menunjukkan satu hal penting, pembangunan infrastruktur tidak otomatis menciptakan ekonomi yang sehat.
Infrastruktur dan Ilusi Kemajuan
Dalam dunia arsitektur, pembangunan fisik sering dianggap solusi utama, bukan wadah. Jalan tol memang dapat mempercepat distribusi barang, gedung baru dapat menarik investasi, dan kawasan modern bisa meningkatkan citra kota.
Namun, semua itu tidak akan berarti besar jika aktivitas ekonomi masyarakat di dalamnya tidak tumbuh secara nyata.
Banyak arsitek melihat bahwa Indonesia terlalu fokus pada simbol pembangunan, tetapi kurang memperhatikan kualitas ekosistem ekonomi yang menopangnya.
Sebuah kota bisa memiliki flyover megah, stasiun modern, hingga kawasan bisnis futuristik. Tetapi jika masyarakat di sekitarnya kehilangan daya beli, UMKM kesulitan, dan lapangan kerja produktif tidak bertambah, maka pembangunan tersebut hanya menjadi kulit luar tanpa kekuatan ekonomi di dalamnya.
Inilah alasan mengapa beberapa proyek infrastruktur besar justru terlihat megah namun tidak mampu menghidupkan kawasan sekitarnya secara berkelanjutan.
Ruang yang Dibangun Belum Tentu Menghidupkan Ekonomi?!
Arsitek pada dasarnya hanya merancang bangunan. Namun mereka juga bisa memikirkan apakah ruang yang dirancang dapat menciptakan interaksi sosial, peluang usaha, hingga pertumbuhan ekonomi lokal.
Masalahnya, banyak proyek infrastruktur di Indonesia masih berorientasi pada skala besar dan visual monumental, tetapi belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan ekonomi masyarakat sehari-hari.
Contohnya, pembangunan kawasan modern yang justru membuat harga tanah melonjak dan mendorong pelaku usaha kecil tersingkir.
Pedagang lokal kalah bersaing dengan tenant besar, ruang publik menjadi semakin komersial, dan masyarakat kelas menengah bawah semakin sulit mendapatkan akses ekonomi yang sehat.
Dari perspektif arsitektur kota, pembangunan semacam ini berisiko menciptakan ketimpangan baru. Kota memang terlihat lebih modern, tetapi ekonomi lokal justru melemah secara perlahan.
Salah satu masalah terbesar dalam situasi ekonomi saat ini adalah menurunnya daya beli masyarakat. Pelemahan rupiah menyebabkan harga bahan baku impor meningkat, biaya konstruksi naik, dan harga kebutuhan pokok ikut terdorong.
Dalam kondisi seperti ini, infrastruktur besar tidak otomatis membantu masyarakat bertahan.
Arsitek melihat bahwa ekonomi kota yang sehat bukan hanya tentang jalan yang mulus atau gedung yang tinggi, tetapi tentang bagaimana masyarakat dapat hidup, bekerja, dan beraktivitas dengan layak di dalamnya.
Jika masyarakat mulai mengurangi konsumsi, toko-toko sepi, proyek properti melambat, dan biaya hidup meningkat, maka pembangunan fisik tidak akan cukup kuat menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Karena pada akhirnya, ekonomi bergerak dari aktivitas manusia, bukan semata dari beton dan aspal.
Indonesia Terlalu Fokus pada Infrastruktur?
Sebagian arsitek juga mulai mengkritik arah pembangunan Indonesia yang terlalu berorientasi pada ekspansi fisik jangka pendek.
Infrastruktur memang penting, tetapi pembangunan manusia, pendidikan kreatif, ruang usaha kecil, transportasi terjangkau, sehingga kualitas lingkungan kota mendapatkan perhatian yang sama besar.
Negara maju tidak hanya dibangun dengan proyek raksasa, tetapi juga dengan ekosistem ekonomi yang hidup dari bawah. Kota-kota yang berhasil secara ekonomi biasanya memiliki
- ruang publik aktif
- UMKM yang berkembang
- transportasi yang terintegrasi
- hunian yang terjangkau
Lalu satu lagi, yaitu kawasan yang mendukung produktivitas masyarakat sehari-hari. Tanpa itu semua, infrastruktur hanya menjadi aset mahal yang sulit memberikan dampak ekonomi jangka panjang.
Arsitektur Bukan Sekadar Membangun?
Bagi banyak arsitek, keberhasilan pembangunan seharusnya tidak diukur dari jumlah proyek yang selesai dibangun, melainkan dari seberapa besar ruang tersebut mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
- Apakah masyarakat lebih mudah mencari nafkah?
- Apakah usaha kecil mendapatkan ruang berkembang?
- Apakah kota menjadi lebih inklusif?
- Atau justru pembangunan hanya dinikmati kelompok tertentu?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang kini mulai relevan di tengah tekanan ekonomi Indonesia saat ini.













